Jumat, 30 Juni 2023

Gejala Diare pada Anak Beserta Cara Mengatasi dan Mencegahnya

 Diare pada anak tentu membuat para orang tua khawatir dan bingung cara menanganinya. Namun, kondisi ini sebenarnya bisa diatasi melalui perawatan rumahan dan salah satunya adalah dengan memenuhi kebutuhan cairan anak.

Diare adalah kondisi yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi buang air besar (BAB) menjadi 3 kali atau lebih dalam sehari dengan tekstur tinja yang lebih cair. Kondisi ini dapat dialami siapa saja, termasuk anak-anak.

Gejala Diare pada Anak Beserta Cara Mengatasi dan Mencegahnya - Alodokter

Diare pada anak termasuk kondisi yang umum terjadi. Sebagian besar diare pada anak disebabkan oleh infeksi virus, tetapi bisa juga karena infeksi bakteri atau parasit.

Selain karena infeksi, diare pada anak juga bisa disebabkan oleh alergi, keracunan makanan, penyakit usus, gangguan penyerapan makanan seperti intoleransi laktosa, dan efek samping obat.

Gejala Diare pada Anak

Selain lebih sering BAB dan mencret, diare pada anak bisa disertai dengan beberapa gejala lain, seperti:

  • Perut kembung
  • Mual
  • Muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Demam
  • Nyeri perut dan kram

Saat diare, tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit dengan sangat cepat. Ini karena saluran cerna sulit menyerap cairan dan elektrolit. Diare yang tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan dehidrasi.

Dibandingkan orang dewasa, anak-anak lebih rentan mengalami dehidrasi. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih waspada terhadap tanda-tanda dehidrasi pada anak, yaitu:

  • Lemas
  • Mata cekung
  • Mulut dan bibir kering
  • Tubuh terasa dingin
  • Kehausan atau justru tidak mau minum sama sekali
  • Jumlah urine sedikit atau warnanya kuning pekat kecokelatan
  • Saat menangis, air mata hanya sedikit atau tidak ada sama sekali
  • Tampak mengantuk terus-menerus

Cara Mengatasi Diare di Rumah

Berikut ini adalah berbagai cara mengatasi diare pada anak melalui perawatan rumahan:

  • Pastikan kebutuhan cairan anak tercukupi, misalnya dengan memberinya oralit.
  • Berikan ASI, terutama saat usia anak masih di bawah 6 bulan.
  • Berikan anak makanan yang lembut dan mudah dicerna, seperti telur, pisang, pasta, sereal, biskuit, kentang, wortel, dan kacang hijau.
  • Hindari memberikan soda karena bisa memperparah diare.
  • Hindari memberikan obat diare anak tanpa berkonsultasi dengan dokter lebih dulu.

Diare ringan akibat infeksi virus biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar 3 hari. Sementara itu, diare akibat infeksi bakteri dan parasit memerlukan pengobatan dari dokter.

Pencegahan Diare pada Anak

Mengingat kasus diare pada anak masih sangat banyak di Indonesia, orang tua perlu melakukan langkah pencegahan yang efektif. Diare pada anak dapat dicegah melalui beberapa cara berikut ini:

  • Memastikan air dan makanan yang dikonsumsi bersih dan matang
  • Membiasakan anak untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, setelah buang air kecil atau buang air besar, serta setelah memegang benda kotor
  • Memberikan ASI pada anak berusia kurang dari 2 tahun untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya
  • Memberikan anak makanan yang bergizi dan bermanfaat untuk pencernaannya
  • Memberikan anak vaksin rotavirus

Seperti telah disebutkan sebelumnya, diare pada anak juga bisa disebabkan oleh hal-hal lain. Jika penyebabnya adalah alergi atau penyakit tertentu, sebaiknya periksakan anak ke dokter agar dapat ditangani sesuai penyebabnya.

Selain itu, jika gejala diare pada anak semakin berat, tak kunjung membaik dalam beberapa hari, atau mengalami tanda-tanda dehidrasi, segeralah bawa ia ke dokter terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

suber:https://www.alodokter.com/diare-pada-anak

    vidio tentang Diare


Sumber:https://youtu.be/OuOyDDWxQt0


Kamis, 29 Juni 2023

Campak - Penyebab, Gejala, dan Langkah Pengobatannya

 

TABLE OF CONTENTS

  • Apa itu Campak?
  • Penyebab Campak
  • Gejala Campak
  • Pengobatan Campak
  • Pencegahan Campak
  • Tangani Campak dengan Tepat
  • Morbili, measles, atau campak adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Penyakit campak ditandai dengan munculnya ruam merah pada sekujur tubuh. Campak seringkali dialami oleh anak-anak. Namun, tidak menutup kemungkinan campak juga bisa terjadi pada orang dewasa.

     

    Gejala campak sedikit mirip dengan penyakit flu pada umumnya yaitu demam, nyeri otot, pusing, pilek, batuk, hingga tubuh terasa lemas. Namun, gejala yang paling membedakan flu umum dengan campak adalah ruam pada kulit. Campak akan menimbulkan ruam berwarna kemerahan di sekujur tubuh, namun flu umum tidak demikian.

     

    Untuk mengenal apa itu campak selengkapnya, Anda dapat membaca artikel berikut ini sampai habis.

     

    Apa itu Campak?

     

    Sebenarnya, apa itu campak? Jadi, campak adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus pada saluran pernapasan. Penyakit campak ini sangat menular (infeksius) dan dapat menimbulkan komplikasi serius pada anak-anak apabila tidak ditangani sesegera mungkin.

     

    Walau demikian, campak adalah penyakit yang bisa dicegah atau tergolong ke dalam jenis PD3I (Penyakit yang dapat Dicegah dengan Imunisasi). Karena itu, penting untuk melakukan imunisasi campak pada anak untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi satu ini.

     

    Penyebab Campak

     

    Penyebab utama campak adalah infeksi virus dari famili Paramyxovirus, seperti rubeola dan rubella. Infeksi virus ini dapat ditularkan melalui percikan air liur penderita campak.

     

    Perlu diketahui, penderita campak dapat menularkan penyakitnya sejak 4 hari sebelum ruam merah muncul pada kulit. Bahkan, penderita campak juga masih bisa menularkan penyakit tersebut 4 hari setelah ruam merah muncul. Di samping itu, virus penyebab campak juga bisa bertahan di udara dan menempel pada benda-benda selama kurang lebih 2 jam.

     

    Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penularan virus campak pada seseorang. Faktor risiko dari campak adalah sebagai berikut:

     

    • Belum mendapatkan vaksin MMR.
    • Tubuh kekurangan vitamin A. Tubuh yang kekurangan vitamin A akan berisiko menimbulkan gejala campak yang lebih parah.
    • Melakukan perjalanan ke negara yang mengalami wabah campak.

     

    Gejala Campak

     

    Umumnya, gejala campak akan muncul kurang lebih sekitar 7 sampai 14 hari setelah tubuh terinfeksi virus rubeola atau rubella. Gejala awal dari campak adalah demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah. Memang, gejala awal campak tersebut terlihat sedikit mirip dengan flu umum. 

     

    Namun setelah beberapa hari, campak akan memunculkan gejala khas yakni ruam merah pada kulit. Adapun gejala dari penyakit campak adalah sebagai berikut:

     

    • Pilek, batuk, dan sakit tenggorokan.
    • Tubuh terasa lemas.
    • Mata merah.
    • Demam tinggi.
    • Sakit dan nyeri otot.
    • Nafsu makan menurun.
    • Diare.
    • Mual dan muntah.
    • Ruam merah pada sekujur tubuh.
    • Bercak putih keabu-abuan pada membran mukosa, seperti mulut dan tenggorokan.

     

    Pengobatan Campak

     

    Penyakit campak sebenarnya tidak memerlukan tindakan pengobatan khusus. Lantaran, campak bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, penderita campak tetap dapat diberi penanganan untuk meringankan gejala serta mencegah terjadinya komplikasi penyakit serius.

     

    Penanganan yang dilakukan untuk meringankan gejala campak adalah sebagai berikut:

     

    • Penderita campak sebisa mungkin melakukan isolasi di ruangan yang terpisah dengan orang lain. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya penularan campak.
    • Istirahat yang cukup dan hindari melakukan aktivitas berat.
    • Perbanyak minum air putih.
    • Mengonsumsi makanan sehat yang memiliki gizi seimbang.
    • Mengonsumsi obat antinyeri atau penurun demam yang diresepkan oleh dokter.
    • Mengonsumsi suplemen vitamin A yang diresepkan oleh dokter.

     

    Pencegahan Campak

     

    Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Karena itu, Anda dapat melakukan pencegahan campak dengan memberikan vaksin pada anak. Vaksin yang diberikan pada anak untuk mencegah terjadinya campak adalah vaksin MMR.

     

    Vaksin MMR merupakan jenis vaksin yang akan melindungi tubuh dari beberapa jenis penyakit, yaitu gondongan (mumps), campak (measles), dan rubela (rubella). Dokter akan memberikan vaksin MMR pada anak melalui 2 dosis, di antaranya:

     

    • Dosis pertama dilakukan saat anak berusia 12 sampai 15 bulan.
    • Dosis kedua dilakukan saat anak berusia 4 sampai 6 tahun.

     

    Selain itu, pencegahan campak juga bisa dilakukan dengan selalu menjaga kebersihan diri, seperti mencuci tangan, menggunakan masker saat bepergian, dan lain sebagainya.

     

    Tangani Campak dengan Tepat

     

    Bila memiliki gejala campak seperti ulasan di atas, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan campak yang tepat. 

     

    Atau, Anda juga bisa melakukan imunisasi campak melalui layanan Siloam at Home - Paket Vaksinasi MMR Anak. Layanan Siloam at Home memudahkan Anda untuk mendapatkan pelayanan kesehatan karena petugas medis dari Siloam Hospitals yang akan mendatangi rumah Anda.


    Praktis, Anda hanya perlu mengunduh aplikasi MySiloam melalui Google Play Store atau App Store pada ponsel pintar Anda. Lalu, daftarkan diri dan pesan layanan Siloam at Home. Mudah, bukan? Jadi, unduh aplikasinya sekarang juga, ya!

    SUMBER: https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-campak

  • VIDIO TENTANG CANPAK



  • SUMBER: https://www.youtube.com/watch?v=gEeORqbBZMQ&feature=youtu.be

CANPAK

 Campak adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang sangat menular. Penyakit ini ditandai dengan ruam kulit di seluruh tubuh dan gejala seperti flu. 

Campak atau disebut juga rubeola disebabkan oleh virus. Umumnya, gejala muncul sekitar satu hingga dua minggu setelah tubuh terpapar virus tersebut. Penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak dan bisa berakibat fatal. Namun, penyakit ini bisa dicegah dengan mendapatkan vaksin. 

Faktor Risiko Campak

Umumnya, kondisi ini lebih sering menimpa anak-anak berusia di bawah lima tahun. Namun, siapapun bisa terinfeksi virusnya. Seseorang juga semakin rentan untuk terkena campak bila belum pernah terkena penyakit tersebut atau belum mendapatkan vaksinasi.

Berikut ini beberapa faktor risiko campak:

1. Belum mendapatkan vaksinasi 

Kamu berisiko lebih tinggi terkena penyakit ini bila belum menerima vaksin campak.

2. Bepergian ke luar negeri

Bila kamu bepergian ke Negara berkembang, di mana kondisi ini sering terjadi, kamu berisiko lebih tinggi terkena penyakit tersebut.

3. Kekurangan vitamin A

Orang yang kurang mengonsumsi asupan vitamin A juga berisiko mengalami gejala dan komplikasi yang parah.

Penyebab Campak

Campak merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus dari keluarga paramyxovirus. Penularan umumnya terjadi melalui percikan liur yang dikeluarkan oleh orang yang terinfeksi saat ia bersin dan batuk. Siapa pun yang menghirup percikan liur tersebut akan tertular penyakit ini.

Virusnya sendiri bisa bertahan selama beberapa jam dan dengan mudah menempel pada benda-benda. Jika seseorang menyentuh benda yang sudah terkontaminasi oleh virus campak, maka besar kemungkinan ia akan tertular.

Gejala Campak

Gejala awal infeksi campak biasanya berupa batuk berdahak, pilek, demam tinggi dan mata merah. Anak-anak mungkin juga memiliki bintik-bintik koplik (bintik-bintik merah kecil dengan pusat biru-putih) di dalam mulut sebelum ruam dimulai.

Ruam kemudian akan muncul 3–5 hari setelah gejala awal dimulai. Urutan kemunculan bercak ini dari belakang telinga, sekitar kepala, kemudian ke leher. Pada akhirnya, ruam akan menyebar ke seluruh tubuh.

Berikut ini merupakan gejala-gejalanya, yaitu:

  • Mata merah dan sensitif terhadap cahaya.
  • Menyerupai gejala pilek seperti batuk kering, hidung beringus, dan sakit tenggorokan.
  • Lemas dan letih.
  • Demam tinggi.
  • Sakit dan nyeri.
  • Tidak bersemangat dan kehilangan selera makan.
  • Diare atau/dan muntah-muntah.
  • Bercak kecil berwarna putih keabu-abuan di mulut dan tenggorokan.

Lebih lengkapnya lagi, kamu bisa membaca soal gejala campak dalam artikel ini: Ibu, Kenali 14 Gejala Awal Penyakit Campak pada Anak.

Diagnosis Campak

Diagnosis campak ditentukan berdasarkan gambaran klinis, yaitu tanda dan gejala yang dialami oleh pasien. Namun pada kasus-kasus khusus, dokter dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah lengkap, antibodi terhadap campak, dan fungsi hati.

Pemeriksaan menggunakan reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR) juga dapat menentukan diagnosis secara pasti. Namun, pada sebagian besar kasus, ini tidak dibutuhkan.

Komplikasi Campak

Penyakit ini harus diwaspadai, meskipun jumlah pengidap komplikasi campak tidak terlalu banyak. Komplikasi yang disebabkan umumnya adalah bronkitis, infeksi paru-paru (pneumonia), radang pada telinga, dan infeksi otak (ensefalitis). Berikut ini beberapa kalangan yang berisiko mengalami komplikasi, yaitu:

  • Bayi di bawah usia satu tahun.
  • Orang dengan penyakit kronis.
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Pengobatan Campak

Oleh karena disebabkan oleh virus, jadi tidak ada pengobatan medis khusus untuk kondisi ini. Penyakit tersebut bisa sembuh dengan sendirinya.

Untuk meredakan gejalanya, berikut perawatan yang bisa dilakukan:

  • Minum banyak air untuk mencegah dehidrasi.
  • Banyak istirahat dan hindari sinar matahari selama mata masih sensitif terhadap cahaya.
  • Minum obat penurun demam dan obat pereda sakit serta nyeri.

Pencegahan Campak

Campak juga dikenal dengan rubeola. Saat ini telah tersedia vaksin untuk mencegah penyakit ini. Vaksin untuk penyakit ini termasuk dalam bagian dari vaksin MMR. Vaksinasi MMR adalah vaksin gabungan untuk campak, gondongan, dan rubella.

Vaksinasi MMR diberikan dua kali. Pertama, diberikan ketika Si Kecil berusia 15 bulan dan dosis vaksin MMR berikutnya diberikan saat mereka berusia 5–6 tahun atau sebelum memasuki masa sekolah dasar. Vaksin memiliki fungsi yang cukup penting dalam mencegah campak.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Si Kecil memiliki tanda dan gejala campak, segera bawa ke rumah sakit untuk mengetahui penyebab dan mendapat penanganan yang tepat. Ibu juga bisa membicarakan masalah kesehatan yang dialami Si Kecil dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, dokter bisa memberi diagnosis awal dan saran kesehatan yang tepat. Yuk, gunakan fitur chat dengan dokter sekarang!

SUMBER: https://www.halodoc.com/kesehatan/campak

VIDIO DIBAWAH INI


SUMBER: Campak: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan - YouTube




PAKTOR RESIKO MUNCULNYA ALERGI

 Apakah anda sering alergi? Mengapa seseorang bisa mengalami alergi? Ada yang alergi terhadap obat-obatan tertentu seperti antibiotik, anti nyeri, seafood, udara dingin, kosmetik, debu dan banyak lagi sumber di sekitar kita yang menyebabkan kita alergi. Respon alergi dapat berupa gejala ringan sampai berat, dari yang hanya bersin bersin sampai kondisi yang menganggu kegiatan sehari hari bahkan mempengaruhi kualitas hidup. Hal-hal yang sepele buat seseorang mungkin bisa menimbulkan masalah bagi orang lain.

Alergi muncul sebagai reaksi tak normal sistem imun saat melawan zat asing yang pada dasarnya tidak berbahaya. Pada kondisi normal, sistem imun seharusnya mampu membedakan antara zat yang aman dan tidak aman bagi tubuh. Reaksi alergi merupakan mekanisme perlindungan alami sistem imun saat mengenali adanya zat asing yang masuk tubuh. Alergi yang muncul secara berlebihan akan menimbulkan gejala yang mengganggu, menimbulkan ketidaknyamanan bahkan dapat mengganggu kualitas hidup kita sehingga membutuhkan penanganan tertentu.

Sistem imun penderita alergi tidak bekerja dengan baik. Sel kekebalan tidak mampu membedakan mana zat yang aman dan mana zat yang berbahaya sehingga mengenali zat biasa sebagai ancaman sehingga memicu reaksi perlawanan yang bermacam-macam pada tiap individu.

Gejala Alergi

Gejala alergi yang timbul pada tiap orang juga dapat beragam, mulai dari ringan hingga berat. Gejalanya bisa berupa bersin-bersin, hidung berair, mata memerah dan gatal, atau ruam kulit. Pada kondisi yang lebih berat dapat menimbulkan efek yang berbahaya dan menganggu kesehatan.

Sumber Alergi

Zat yang menyebabkan alergi dapat berbeda pada tiap orang. Beberapa contoh alergen adalah debu, bulu hewan peliharaan, kacang, gigitan serangga, obat-obatan, atau bahan lateks. Zat yang berpotensi menyebabkan alergi disebut sebagai alergen. Saat alergen masuk ke dalam tubuh, sistem imun akan membentuk antibodi Imunoglobulin E (IgE). Antibodi adalah protein khusus yang berfungsi melawan zat asing yang masuk ke dalam tubuh.

Faktor Resiko :

1. Memiliki riwayat alergi dalam keluarga

Sebagian besar kasus alergi bersifat genetik atau diturunkan dalam keluarga. Gen alergi bisa diturunkan kepada anak/ keturunan sehingga dapat muncul kondisi yang sama. Setiap alergi bersifat unik, sehingga mungkin ada faktor lain dalam genetik yang mempengaruhi.

2. Terlalu jarang terkena alergen

Menurut salah satu penelitian di Amerika Serikat, risiko alergi dapat bertambah besar bila sejak kecil kita dibiasakan hidup terlalu bersih. Pada kondisi demikian ini, sistem imun tidak sempat mengenali macam-macam alergen dari lingkungan sekitar. Paparan alergen sejak masa kanak-kanak justru berguna bagi perkembangan sistem imun, sehingga sel-sel kekebalan tubuh mampu membedakan zat asing yang harus dilawan, yang bermanfaat, dan yang tidak berbahaya bagi tubuh. Mengenalkan alergen sejak dini merupakan cara terbaik untuk memperkuat sistem imun tubuh secara alami meskipun tidak membuat anak kebal alergi.

3. Dibatasi makan makanan tertentu

Anak anak perlu dikenalkan makanan bervariasi sejak dini. Hal ini sebagai cara terbaik mengenalkan protein sebagai zat yang bermanfaat. Ini penting agar sistem imun bisa mengenali makanan atau allergen sejak awal agar sistem imun tidak bereaksi berlebihan. Makanan pemicu alergi seperti kacang, telur, dan ikan pada dasarnya bermanfaat bagi anak.

4. Tinggal di lingkungan rumah yang kering atau terlalu lembab

Kelembapan udara berdampak besar terhadap sistem pernapasan. Udara yang terlalu lembab memicu pertumbuhan jamur dan tungau debu. Tungau debu menghasilkan enzim dan zat-zat buangan yang bisa menyebabkan alergi pada sebagian orang ketika terhirup. Udara terlalu kering juga tidak baik untuk pernafasan. Usahakan jagalah udara di rumah agar tidak terlalu kering ataupun lembap. Anda dapat menggunakan alat pengatur kelembapan atau humidifier untuk menjaga kelembapan dalam rentang 30 – 50 persen.

5. Sering terkena alergen dari lingkungan kerja

Pekerjaan tertentu mungkin membuat Anda lebih sering terkena alergen. Zat pemicu alergi yang sering ditemukan di tempat kerja antara lain serbuk kayu, polusi udara, zat kimia, serta tungau dari gudang penyimpanan. Penyebab lain misalnya lateks,  kotoran hewan, cat rambut, maupun alergen lainnya.

Alergi pada usia dewasa, mengapa?

Dugaan munculnya alergi saat dewasa dikaitkan dengan peningkatan polutan debu dan kuman di udara. Paparan yang terjadi dalam jangka panjang, dapat mempengaruhi daya tahan tubuh.  Pada individu yang baru pertama kali mengalami alergi di usia dewasa mungkin saja sudah memiliki riwayat alergi pada anak sejak kecil tetapi tidak mengingatnya. Reaksi alergi masa kecil juga dapat mereda atau hilang selama usia remaja, kemudian kembali lagi ketika dewasa. Hal ini mungkin disebabkan oleh proses penuaan alami yang lama kelamaan dapat mempengaruhi daya tahan tubuh sehingga muncul alergi lagi. Faktor lain yang mungkin menjadi penyebab munculnya alergi saat dewasa :

  • Daya tahan tubuh menurun akibat penyakit
  • Konsumsi antibiotik yang terlalu sering
  • Kurangnya populasi bakteri dalam usus
  • Kekurangan asupan vitamin D
  • Terkena alergi musiman atau alergi yang dipicu oleh makanan yang belum pernah Anda coba
  • Memiliki hewan peliharaan baru
  • Bepergian jauh atau berpindah ke lingkungan yang jauh berbeda

Pengobatan dan Pencegahan Alergi

Pengobatan utama alergi adalah dengan menghindari zat pemicunya (alergen). Dokter dapat memberikan obat anti alergi, seperti antihistamin dan kortikosteroid untuk meredakan gejala alergi. Bila reaksi alergi tergolong berat, penderita membutuhkan injeksi epinephrine. Cara terbaik untuk mencegah alergi adalah dengan menghindari pemicunya. Hal yang dapat dilakukan jika pemicunya sulit untuk dihindari dapat disiasasi dengan mengenakan pakaian tertutup, tidak memakai parfum yang dapat mengundang serangga, serta membersihkan rumah secara rutin.

SUMBER:https://sardjito.co.id/2022/06/20/faktor-resiko-munculnya-alergi/

VIDIO DIBAWAHNI



SUMBER:Memahami Alergi, Gejala, Risiko, Pengobatan, dan Preventif | Kata Dokter #119 - YouTube

Jadwal Vaksin Wajib dan Tambahan untuk Bayi 0-12 Bulan

KESEHATAN

Imunisasi penting diberikan pada bayi segera setelah ia lahir ke dunia. Imunisasi sendiri adalah cara untuk memperkuat kekebalan tubuh bayi dengan cara memasukkan vaksin, yakni virus atau bakteri yang sudah mati atau dilemahkan. Setelah vaksin masuk, sistem imun tubuh akan membentuk antibodi untuk melawan penyakit menular, seperti polio, difteri, campak, dan hepatitis. Masing-masing jenis vaksin perlu diberikan sesuai jadwal guna memberikan efek perlindungan yang maksimal.

Yuk, cari tahu jadwal imunisasi atau vaksin untuk bayi usia 0-12 bulan berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan World Health Organization (WHO) di sini!

Vaksin Wajib untuk Bayi Usia 0-12 Bulan

Di Indonesia ada beberapa jenis vaksin yang wajib diperoleh bayi sebelum usianya genap 1 tahun. 

Berikut ini adalah kelima jenis imunisasi wajib yang perlu diberikan sesuai usia si Kecil beserta jadwalnya yang telah ditetapkan pemerintah:

1. Vaksin Hepatitis B (HB)

Imunisasi Hepatitis B digunakan untuk melindungi bayi dari infeksi virus hepatitis B yang dapat menyebabkan pengerasan hati. Pengerasan hati dapat berujung pada gagal fungsi hati hingga kanker. 

Vaksin atau imunisasi HB pertama idealnya diberikan segera setelah bayi lahir, yakni dalam waktu kurang dari 12 jam. Sebelumnya, si Kecil perlu diberikan suntikan vitamin K1 lebih dulu. 

Bayi yang tidak mendapat vaksin HB pada waktu lahir berisiko terinfeksi hepatitis B hingga 3,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang segera divaksin setelah lahir. Bayi yang sudah terinfeksi virus hepatitis B pun memiliki risiko lebih dari 90-95% kondisinya berkembang menjadi hepatitis B kronis.

Jika Mama tidak yakin si Kecil sudah mendapat vaksin HB sewaktu lahir, tanyakan pada dokter atau bidan yang membantu persalinan Mama. Jika terlewat, manfaat vaksin HB masih bisa didapatkan jika diberikan dalam 7 hari pertama kehidupan. 

2. Vaksin Polio

Polio adalah penyakit menular karena infeksi virus yang menyerang sistem saraf otak dan saraf tulang belakang. Pada kasus yang parah, penyakit ini bisa menyebabkan sesak napas, kelumpuhan, hingga kematian. 

Imunisasi polio itu sendiri terbagi menjadi dua jenis vaksin, yaitu secara oral yang diteteskan ke mulut bayi (Oral Poliovirus Vaccine atau OPV) dan lewat suntikan (Inactivated Poliovirus Vaccine atau IPV).

Bayi akan mendapatkan vaksin polio jenis OPV ketika baru lahir, dan pada usia 2, 3, 4, serta 18 bulan. Kemudian, ada pengulangan setiap bulan pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Untuk vaksin polio suntik (IPV) akan diberikan pada usia 2, 4, dan 6-18 bulan. 

3. Vaksin BCG

Imunisasi BCG adalah jenis imunisasi untuk melindungi tubuh si Kecil dari kuman penyebab penyakit tuberkulosis (TBC). 

TBC merupakan penyakit menular berbahaya yang menyerang paru-paru dan terkadang bagian lain dari tubuh, seperti otak, tulang, sendi, dan ginjal.

Menurut rekomendasi IDAI 2020, imunisasi BCG sebaiknya diberikan segera setelah bayi lahir atau sesegera mungkin sebelum bayi berumur 1 bulan.

4. Vaksin DPT

Imunisasi DPT dilakukan untuk mencegah tiga penyakit sekaligus dalam satu suntikan, yaitu difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus. 

Jadwal imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali dan berturut-turut pada bayi usia 2, 3, dan 4 bulan atau usia 2, 4, dan 6 bulan.

Booster pertama diberikan pada umur 18 bulan. Booster berikutnya diberikan pada umur 5 - 7 tahun atau pada program BIAS kelas 1.

5. Vaksin MR/MMR

Imunisasi campak, penyakit gondok (mumps), dan rubella (MR) diberikan sebagai langkah pencegahan terhadap penyakit campak dan rubella yang mudah menular.

Menurut jadwal imunisasi IDAI terbaru, vaksin MR sudah boleh didapatkan ketika bayi berusia 9 bulan. Lalu, saat bayi usia 18 bulan dan menginjak 6 tahun, akan menerima kembali imunisasi MMR ulang (booster).

Jika si Kecil sudah mendapat vaksin campak di usia 9 bulan, pemberian vaksin MMR sebaiknya dilakukan di usia 15 bulan (minimal jeda 6 bulan). Apabila hingga usia 12 bulan ia belum mendapat vaksin campak, maka dapat diberikan vaksin MMR/MR.

Untuk bantu mengoptimalkan daya tahan tubuh si Kecil, yuk download E-Book Eksklusif Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh di 1000 Hari Pertama baik berdasarkan informasi langsung dari para ahli. Gratis!

Jadwal Imunisasi Tambahan untuk Bayi

Selain imunisasi wajib yang telah dijelaskan sebelumnya, IDAI juga menganjurkan Mama dan Papa supaya si Kecil mendapatkan jenis imunisasi lain selain yang sudah disebutkan di atas. Berikut adalah rinciannya.

1. Vaksin Pneumokokus (PCV)

Pneumokokus (PCV) adalah jenis imunisasi yang bertujuan untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae. 

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini, di antaranya radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis), dan infeksi darah (bakteremia). Penyakit pneumokokus merupakan penyebab kematian yang paling tinggi pada anak balita. 

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae dapat menyerang siapa saja dengan angka tertinggi menyerang anak usia kurang dari 5 tahun. 

Jadwal imunisasi PCV diberikan sejak bayi berusia 2 bulan dan diberikan 3 kali dengan interval 4-8 minggu (usia bayi 2, 4, 6 bulan).

Baca Juga: 5 Manfaat Daya Tahan Tubuh Kuat untuk Tumbuh Kembang si Kecil

2. Vaksin Rotavirus 

Imunisasi rotavirus bertujuan untuk mencegah diare akibat rotavirus. Rotavirus bisa menyebabkan diare sampai membuat tubuh si Kecil dehidrasi akibat kekurangan cairan.

Sesuai jadwal imunisasi IDAI, vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 dosis, yaitu pada usia 2 dan 4 bulan dosis pertama mulai usia 6-12 minggu, dosis kedua dengan interval minimal 4 minggu, dan dosis kedua diberikan paling lambat 24 minggu atau 6 bulan.

Sementara itu, jadwal vaksin rotavirus pentavalen diberikan dalam 3 dosis. Dosis pertama diberikan pada usia 6 - 12 minggu. Dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4 - 10 minggu. Dosis ketiga paling lambat diberikan pada usia 32 minggu atau 8 bulan. 

3. Vaksin Varisela

Vaksin varisela adalah jenis vaksin yang digunakan untuk mencegah infeksi virus penyebab penyakit cacar air. 

Menurut panduan jadwal imunisasi IDAI terbaru, imunisasi varisela diberikan sejak anak usia 12-18 bulan. 

Pada usia 1-12 tahun diberikan 2 dosis dengan interval 6 minggu sampai 3 bulan. Lalu, pada usia 13 tahun atau lebih diberikan 2 dosis dengan interval 4-6 minggu.

4. Vaksin Japanese Encephalitis

Vaksin Japanese Encephalitis (JE) digunakan untuk mencegah infeksi virus Japanese Encephalitis penyebab penyakit radang otak. Umumnya, jenis vaksin ini diberikan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah tersebut.

Area endemis JE di Indonesia antara lain adalah Bali, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jakarta.

Di panduan jadwal imunisasi IDAI, jenis vaksin ini diberikan mulai umur 9 bulan di daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1 - 2 tahun kemudian.

5. Vaksin Hepatitis A

Imunisasi hepatitis A diberikan untuk mencegah infeksi virus hepatitis A yang dapat menyebar melalui makanan dan minuman yang terinfeksi. Pemberian imunisasi diberikan kepada anak mulai usia 1 tahun. Bayi akan menerima imunisasi hepatitis A sebanyak 2 kali dengan interval atau jeda 6 - 12 bulan setelah suntikan pertama. 

6. Vaksin Tifoid

Pemberian imunisasi tifoid bertujuan untuk mencegah infeksi bakteri penyebab penyakit tipes, yang dapat menyebar melalui makanan atau minuman yang terinfeksi. Jenis imunisasi ini diberikan pada anak usia 2 tahun yang diulang setiap 3 tahun sekali. 

7. Vaksin Influenza

Imunisasi influenza diberikan mulai bayi berusia 6 bulan yang diulang setiap tahun. Pada usia 6 bulan - 8 tahun imunisasi pertama, diberikan sebanyak 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu. Sementara itu, usia di atas 9 tahun akan mendapat imunisasi pertama sebanyak 1 dosis.

Baca Juga: 5 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Setelah Anak Imunisasi

Sebaiknya, pemberian imunisasi pada si Kecil ketika kondisi bayi dalam keadaan sehat dan tidak sedang batuk, pilek, atau demam, ya, Ma.  Pastikan juga tidak ada jadwal imunisasi yang terlewatkan agar anak tumbuh sehat dengan lebih optimal.

Yang perlu dipahami, terkadang pemberian vaksin menimbulkan efek samping tidak nyaman untuk bayi, seperti demam ringan yang membuat rewel. Untuk meredakan tangis dan demam si Kecil setelah vaksin, yuk kunjungi Health Immune Checker

Dan agar Mama dapat lebih maksimal menjaga kesehatan si Kecil yang baru lahir, yuk unduh E-book eksklusif Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh di 1000 Hari Pertama Si Kecil. Gratis!

SUMBER :https://www.nutriclub.co.id/artikel/kesehatan/4-6-bulan/jenis-imunisasi-penting-untuk-si-kecil?gclid=Cj0KCQjwtO-kBhDIARIsAL6LoreUeE07tA3vlDCmNSf2qhJs6w3xWzBE2qCqg4OtkqjVv9gSxFEHsGUaAkc4EALw_wcB&gclsrc=aw.ds

VIDIO DI BAWAH INI


SUMBER:Semua Tentang Imunisasi: Jadwal Imunisasi Tepat, Si Kecil Sehat - YouTube

Senin, 26 Juni 2023

Menstruasi

 Menstruasi adalah keluarnya darah dari vagina karena siklus alami bulanan. Siklus ini merupakan bagian dari proses normal organ reproduksi wanita untuk mempersiapkan kehamilan.

Setiap bulannya, organ reproduksi wanita akan mempersiapkan kehamilan, yang ditandai dengan lepasnya sel telur dari indung telur dan penebalan dinding rahim. Jika tidak terjadi kehamilan, dinding rahim akan luruh dan keluar bersama darah melalui vagina. Keluarnya darah ini disebut sebagai menstruasi atau haid.

Menstruasi - Alodokter

Menstruasi merupakan salah satu tanda wanita memasuki masa pubertasHaid pertama bisa datang lebih cepat atau lambat. Namun, rata-rata siklus menstruasi pertama dimulai pada usia 12 tahun, atau 2–3 tahun setelah payudara tumbuh. Siklus ini akan terus berlangsung sampai masuk masa menopause.

Fase Menstruasi

Siklus menstruasi pada wanita terbagi menjadi empat fase, yaitu:

Fase menstruasi

Fase menstruasi ditandai dengan luruhnya dinding rahim yang berisi pembuluh darah dan cairan lendir. Proses ini dimulai sejak hari pertama haid dan berlangsung selama 3–7 hari.

Fase folikular

Pada fase folikular, indung telur (ovarium) akan membentuk folikel yang isinya adalah sel telur belum matang. Folikel dan sel telur ini akan berkembang dan merangsang penebalan pada dinding rahim.

Fase folikular umumnya dimulai sejak hari pertama menstruasi dan berlangsung selama 11–27 hari, tergantung pada siklus masing-masing wanita.

Fase ovulasi

Fase ovulasi, atau disebut juga sebagai masa subur, terjadi ketika ovarium melepaskan sel telur yang sudah matang. Sel telur ini siap dibuahi oleh sperma di saluran indung telur. Namun, jika tidak dibuahi oleh sperma, sel telur akan melebur dalam 24 jam setelah terjadinya fase ovulasi.

Fase ovulasi umumnya terjadi pada hari ke-12 hingga 14 siklus menstruasi. Pada masa ini, vagina akan mengeluarkan lendir serviks.

Fase luteal

Fase luteal ditandai dengan berubahnya sel telur menjadi korpus luteum. Korpus ini akan melepaskan hormon yang mempertebal dinding rahim. Namun, jika tidak dibuahi oleh sperma, korpus luteum akan menyusut dan kembali diserap. Dengan begitu, lapisan rahim akan luruh selama menstruasi.

Fase luteal berlangsung selama 11–17 hari. Pada fase ini, gejala-gejala premenstrual syndrome (PMS) bisa terjadi.

Penyebab Menstruasi Tidak Normal

Normalnya, haid datang setiap 21–35 hari dengan lama menstruasi selama 3–7 hari. Pada fase menstruasi, wanita rata-rata mengeluarkan darah kurang dari 80 mililiter, atau sekitar 8−10 sendok makan.

Rentang waktu siklus haid pada setiap wanita bisa berbeda-beda. Namun, ada wanita yang mengalami kelainan siklus menstruasi, misalnya jadwal haid tidak teratur, dan volume darah yang keluar terlalu banyak (menorrhagia) atau justru terlalu sedikit (oligomenorea).

Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan siklus menstruasi wanita tidak normal, yaitu:

  • Menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk KB spiral (IUD)
  • Mengonsumsi obat, seperti pil KB atau obat antidepresan
  • Menderita penyakit seperti hipertiroidismehipotiroidisme, radang panggul, atau polycystic ovarian syndrome (PCOS)
  • Menderita gangguan rahim, seperti miom
  • Mengalami gangguan pola makan, misalnya bulimia, anoreksia nervosa, atau binge eating disorder
  • Berolahraga terlalu berat dan diet terlalu ketat
  • Sedang menyusui
  • Mengalami stres berat
  • Merokok

Gejala Menstruasi

Wanita yang sedang menstruasi dapat merasakan gejala tertentu pada dua fase, yaitu menjelang dan saat haid berlangsung. Berikut adalah penjelasannya:

Gejala pramenstruasi (PMS)

Pada siklus menstruasi, kadar hormon dalam tubuh akan berubah. Hal ini dapat memengaruhi fisik dan emosi sejak beberapa hari sebelum menstruasi. Gejala ini disebut sindrom pramenstruasi atau premenstrual syndrome (PMS).

Beberapa gejala yang dapat muncul saat pramenstruasi adalah:

  • Sakit kepala
  • Nyeri di payudara
  • Timbul jerawat
  • Perut kembung
  • Perubahan suasana hati (mood swing)
  • Perubahan gairah seks

Gejala di atas bisa berlangsung selama 6–7 hari, yaitu 4 hari sebelum menstruasi dan 2–3 hari sesudah haid.

Gejala saat menstruasi

Pada saat haid berlangsung, kontraksi rahim dan perubahan hormon bisa menimbulkan gejala menstruasi yang biasanya terjadi selama 1–3 hari.

Gejala yang dirasakan pada saat menstruasi meliputi:

  • Sakit perut bagian bawah (dismenore)
  • Nyeri di bagian pinggul, punggung bagian bawah dan paha bagian dalam
  • Sakit kepala
  • Pusing
  • Mual
  • Diare
  • Lemas

Gejala haid akan berkurang seiring bertambahnya usia, atau bahkan hilang ketika sudah melahirkan.

Kapan harus ke dokter

Lama serta volume perdarahan pada siklus haid bisa berbeda-beda. Oleh sebab itu, sebaiknya catat siklus menstruasi agar dapat segera menyadari jika ada gangguan haid.

Perubahan pada siklus haid bisa menandakan adanya masalah kesehatan. Segera ke dokter jika mengalami tanda-tanda kelainan menstruasi, seperti:

  • Jadwal haid yang tidak teratur, seperti tidak menstruasi lebih dari 3 bulan, atau haid lebih cepat dari 21 hari
  • Darah yang keluar saat menstruasi sangat banyak
  • Perdarahan lebih dari 7 hari
  • Perdarahan di luar siklus menstruasi
  • Gejala haid lebih berat daripada biasanya
  • Menstruasi disertai pucat, sangat lemas, keringat dingin, dan linglung

Segera bawa anak perempuan Anda ke dokter jika ia belum juga mengalami haid setelah berusia 16 tahun atau lebih.

Diagnosis Gangguan Menstruasi

Untuk mendiagnosis gangguan menstruasi, dokter akan menanyakan seputar siklus menstruasi dan penyakit yang pernah dialami pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan tes fisik, termasuk pemeriksaan panggul, guna mendeteksi tumor atau radang.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosis, antara lain:

  • Tes darah, untuk mendeteksi anemia, gangguan tiroid, atau penyakit lain
  • Pap smear, untuk mendiagnosis kanker serviks
  • Pemeriksaan cairan vagina, untuk mendeteksi kemungkinan penyakit infeksi menular seksual
  • USG rahim, untuk memeriksa kemungkinan miom atau kista ovarium
  • Biopsi (pengambilan sampel jaringan dari dinding rahim), untuk mendiagnosis ketidakseimbangan hormon, endometriosis, atau sel kanker

Pengobatan Gangguan Menstruasi

Penanganan untuk mengatasi gangguan menstruasi tergantung pada gejala yang dialami. Berikut ini adalah penjelasannya:

Nyeri

Untuk meredakan nyeri ketika menjelang atau saat menstruasi, penderita bisa mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti paracetamol, asam mefenamat, atau ibuprofen.

Jadwal haid tidak teratur

Untuk memperlancar haid, pasien bisa membeli obat pelancar haid atau berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan meresepkan obat yang mengandung hormon estrogen dan progesteron, seperti pil KB.

Perdarahan menstruasi yang berlebihan

Untuk mencegah anemia akibat perdarahan berlebihan saat menstruasi, dokter akan menganjurkan pasien untuk membeli suplemen penambah darah yang dijual bebas di apotek. Selain itu, dokter juga dapat memberikan suntik progestin.

Pada beberapa kasus, dokter akan melakukan operasi untuk mengatasi kelainan menstruasi akibat penyakit tertentu, seperti endometriosis dan miom.

Komplikasi Gangguan Menstruasi

Gangguan menstruasi yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan kurang darah (anemia). Hal ini terjadi akibat perdarahan menstruasi yang berlebihan dan berlangsung lama. Penderita juga berisiko mengalami gangguan kesuburan.

Pencegahan Gangguan Menstruasi

Gjala yang muncul pada siklus menstruasi memang sulit dihindari. Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meredakan sakit saat haid, yaitu:

  • Konsumsilah makanan bergizi lengkap dan seimbang.
  • Perbanyak konsumsi makanan dan minuman berkalsium tinggi seperti, yoghurt dan sayuran hijau.
  • Kurangi konsumsi gula, garam, dan makanan
  • Hindari minuman yang mengandung kafein, soda, atau
  • Kompres hangat di area perut.
  • Jangan merokok.
  • Lakukan olahraga dan istirahat yang cukup.
  • Kelola stres dengan baik, misalnya lewat teknik relaksasi.
  • Mandi dengan air hangat.s
    sumber:https://www.alodokter.com/menstruasi

            vidio tentang mensturasi


sumber:https://youtu.be/rikp80Vk554


Gejala Diare pada Anak Beserta Cara Mengatasi dan Mencegahnya

  Diare pada anak tentu membuat para orang tua khawatir dan bingung cara menanganinya. Namun, kondisi ini sebenarnya bisa diatasi melalui pe...